Mawar Yang Kuncup Kini Merekah

Dear Serena biskuit….

Saat adzan ashar berkumandang, tepat pada tanggal 01 februari 1992 aku terlahir kedunia ini sebagai anak kedua dan putri perempuan pertama dalam keluarga. Hari demi hari ibu dan ayahku terus membesarkan dan mendidik aku dan kaka ku, kami hidup dalam keluarga yang sangat serba kekurangan. Heningnya malam, menjadi saksi atas keharmonisan yang tersirat dlam keluarga kecil kami, dan tak pernah terpikirkan olehku bahwa aku hidup dalam keluarga yang seperti ini. Semua terasa indah dimataku saat itu. Tahun keempat aku hidup di dunia ini, akhirnya anggota keluarga kami bertambah menjadi 3 bersaudara, ia adalah adik wanita yang sangat elok nan cantik.

Waktu itu tak pernah terpikirkan olehku, bahwa hidupku saat itu sangatlah kritis. Ayah adalah seorang guru biasa dan ibu pedagang sederhana. Setiap pagi kami harus menunggu pembeli jika ingin mendapatkan uang jajan untuk sekolah. Ibuku penjual cemilan dan makanan seperti bubur dan uduk. Kami tak pernah tahu uang dari ayah, yang kami tahu adalah uang jajan dari ibu. Setiap pergi sekolah kami berdua berangkat bersama ayah naik motor, dan pulang jalan kaki. Hari demi hari barulah terasa bahwa aku dibesarkan dalam keluarga sedrhana, karna faktor lingkunagan yang cukup mewah ku rasakan saat itu. Kadang aku dan kakaku membantu ibu berjualan di tempat adu ayam atau lomba-lomba antar kampung. Aku dan kaka menjual minuman dan makanan kecil yang bisa kami gendong di pundak kami. Ibu selalu berdoa, tawakal, sabar dan tabah dengan keadaan kami saat itu, dan ayah terus berjuang untuk menjadikan hidup kami menjadi lebih indah. Hari demi hari kami lewati bersama sampai saatnya ketika bertepatan adik ku memulai sekolahnya di sekolah dasar, ayah ku di angkat menjadi kepala sekolah di suatu sekolah dasar. Tapi kegiatan sehari-hari tak pernah berubah, ibu tetap berjualan dan ayah sibuk dengan targetnya. Bulan berganti tahun akhirnya ibupun memutuskan untuk kuliah dan mengajar sambil berjualan.

Suatu ketika tanpa kita sadari, ayah tengah sibuk menyiapkan pembangunan rumah yang tak jauh dengan perumahan yang kita tempati saat itu. Itu adalah anugrah buat kami, kami yang biasanya tidur dalam 1 kamar berlima dengan dapur yang menyatu dengan warung, dan kamar mandi yang kecil kini akan tinggal dirumah yang cukup besar yang dulu sebelum jadi aku bayangkan adalah rumah yang sangat megah dan indah. Aku tak ingat berapa lama pembangunan itu dilakukan, yang ku ingat ketika kami pertama kali menempati rumah itu aku dan saudara-saudaraku memilik adik lagi yang berjenis kelamin laki-laki, ia adalah putra keempat orangtua kami.

Ternyata benar yang aku bayangkan, ayah membangunkan istana indah nan megah buat kami. Saat itu aku menyadari, bahwa ayah selama ini mendidik kami secara sederhana karena agar semua cita-cita dan targetnya tercapai lebih cepat dan agar kami tak hidup dalam gemerlap kemewahan. Dan ayah melakukan ini semata-mata untuk kebahagiaan keluarga di masa depan. Kini sangatlah terasa dalam hidupku bahwa Hidup membutuhkan perjuangan untuk meraih cita-cita yang diharapkan. 14 tahun perjalanan ayah dan ibu di arungi oleh badai yang sangat kencang. Butuh tiang yang kokoh untuk menyelamatkan diri dari badai yang menerjang.

Diumurku yang ke 14 tahun pula aku memiliki adik ke empat, atau putra kelima dari ayah dan ibu, dan aku bersyukur karena ia hidup dalam keadaan ekonomi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Kini kami hidup dalam keadaan ekonomi yang baik dan kami tetap menerapkan hidup sederhana dalam keseharian kami. Kini kakaku seorang mahasiswa yang sedang menyusun skripsinya di salah satu Univeritas kota bandung, adik peremuanku kini tengah sibuk dengan kelulusan di SMAnya, dan kedua adik laki-laki ku yang kini menduduki bangku kelas 2 SMP dan 1 SD, dan aku sendiri kini tengah mengenyam pendidikan di salah satu Universitas kota serang. Ibu dan ayahku kini menjadi pegawai negri sipil di daerahku, dengan jabatan yang berbeda.

Terimakasih Serena biskuit telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menceritakan kisah hidup kami.

Dan terimakasih juga buat para bloger yang bersedia membaca tulisan saya.

See U next time..

Bye… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s